Sabtu, 15 November 2014



KEWAJARAN, PEUNGKAPAN, DAN TREN MASA DEPAN
DALAM AKUNTANSI



MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah Teori Akuntansi
Yang dibina oleh Dr. H. Eka Ananta Sidharta, S.E., M.M., Ak, CA



Oleh
Dyah Ayu Khumairo’ 120422403191
Syukriyah 120422425873






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
November 2014


KEWAJARAN, PEUNGKAPAN, DAN TREN MASA DEPAN
DALAM AKUNTANSI

A.    Kewajaran sebagai Netralitas dalam Penyajian
            Kewajaran paling tepat dijabarkan dalam literatur dan persyaratan-persyaratan akuntansi profesional sebagai pernyataan netralitas dari akuntan dalam pembuatan laporan keuangan. Scott pada tahun 1941, menyatakan: “Aturan, prosedur, dan teknik akuntansi hendaknya wajar, tidak bias dan tidak memihak. Jadi salah satu dalil akuntansi dasar yang mendasari prinsip-prinsip akuntansi dapat dinyatakan sebagai kewajaran-kewajaran bagi seluruh segmen dari masyarakat bisnis (manajemen, tenaga kerja, pemegang saham, kreditor, konsumen, dan publik), ditentukan dan kebiasaan dari semua segmen tersebut sampai pada akhirnya semua prinsip-prinsip akuntansi yang didasarkan atas dalil di atas akan menghsilkan akuntansi keuangan bagi hak-hak dan kepentingan-kepentingan ekonomi yang telah diterbitkan secara resmi menjadi wajar untuk semua segmen.
            Menurut sejarahnya, kewajaran atau doktrin kewajaran mengalami evolusi dari penerapan kosep konservatisme. Konsep tersebut berangkat dari perhatian yang berhubungan dengan masalah likuiditas dan pemberian kredit, yang umumnya dikaitkan dengan konservatisme, menuju kearah pemikiran bahwa penyajian laporan keuangan seharusnya wajar bagi semua pengguna. Kewajaran umumnya dihubungkan dengan pengukuran dan pelaporan informasi melalui cara yang objektif dan netral. Informasi adalah wajar jika informasi tersebut objektif dan netral. Kewajaran akan lebih dapat tercapai dalam akuntansi manajerial atau akuntansi biaya dimana adanya tanda-tanda keberpihakan atau bias dapat mendistorsikan proses pengambilan keputusan yang sangat bergantung pada data akuntansi manajerial. kewajaran menjadi kriteria informasi yang dibutuhkan dalam akuntansi manajerial untuk memastikan integrasi dan akurasi dari pengambilan keputusan.



B.     Doktrin “Benar dan Wajar”
Menurut pemahaman umum, pandangan ini berati penyajian akun-akun, yang berdasarkan prinsi-prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan menggunakan angka-angka yang akurat. Benar memiliki artian bahwa informasi akuntasi yang dimuat dalam laporan keuangan telah dikuantifisir dan dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan peristiwa, aktivitas dan transaksi ekonomi yang dimaksudkan untuk disajikan olehnya. Wajar berarti bahwa informasi akuntansi tersebut telah di ukur dan diungkapkan dengan cara yang objektif dan tanpa prasangka apa pun terhadap kepentingan dari berbagai bagian dalam perusahaan.
Kedua difinisi diatas pada dasarnya menghubungkan ”benar dan wajar” dengan akurat dan bebas dari bias. Akan tetapi usaha yang patut dihargai ini mengurangi artian dari definisi profrsional dan legal mengenai “benar dan wajar” sebagai salah satu istilah teknis yang memiliki arti kepatuhan terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang benar. Tidak terdapat definisi yang jelas mengenai doktrin “benar dan wajar” ini, yang selanjutnya mengarah kepada munculnya interprestasi yang berbeda di antara para anggota.
C.    Kewajaran dalam Distribusi
Pada dasarnya, kewajaran dapat dipandang sebagai konsep moral dari keadilan yang menjadi subjek dari tiga interpretasi yang berada mengenai pemikiran keadilan distributif. Oleh sebab itu, hasil akhirnya adalah adanya kemungkinan untuk melihat dan membandingkan konsep kewajaran melalui kerangka keadilan disributif.

1.      Perhatian atas Pertanyaan-pertanyaan Mengenai Distribusi
Masalah pendistribusian hampir selalu diabaikan dalam pandangan konvensional atas kewajaran sebagai netralitas, dalam penyajian. Jika pertimbangan mengenai kewajaran diperkenankan untuk menjadi lebih eksplisit, bebrapa implikasi tertentu akan muncul pada studi dan praktk akuntansi. Salah satu yang paling nyata adalah akuntansi memiliki demensi moral. Konsekuensi dari aktivitas akuntansi memiliki implikasi moral sekaligus implikasi “efesiensi”. Bagi suatu profesi, menjadi lebih ilmiah bukan berarti harus meninggalkan pengambialan keputusan moral dan mengembangkan cara-cara untuk melakukannya. Kewajaran dalam akuntansi dan kewajaran dalam distribusi tumbuh dari kerangka etika yang berbeda, meskipun bersifat komplementer, asumsi-asumsi mengenai masyarakat.
Kewajaran dalam literatur akuntansi sosial menjadi masalah pendistribusian tanggung jawab sosial secara umum, dan ketanggapan sosial sebagai kemampuan dari perusahaan untuk memberikan respons atas tekanan-tekanan sosial. Jadi responsif sosial perusahaan, menjadi salah satu tanda kewajaran, berada di luar konotasi moral dan etika dari tanggung jawab sosial serta proses material. Respon untuk kewajaran meliputi identifikasi, pengukuran dan pengungkapan, apabila memungkinkan, dari biaya sosial yang diciptakan oleh aktivitas-aktivitas eknomi perusahaan, sekaligus pula respon yang memadai untuk masalah-masalah ini.
2.      Kewajaran sebagai Konsep Moral dari Keadilan
 Agar kejujuran dianggap sebagai konsep keadilan moral, harus dibuat kesesuaian antara teori utama yang membahas mengenai keadilan distributif.


a.. Kontribusi Rawls
Teori keadilan Rawls bertujuan untuk mengembangkan sebuah teori mengenai keadilan dalam bentuk prinsip – prinsip yang dapat diterapkan untuk mengmbangkan struktur dasar masyarakat dan memberikan tantangan langsung bagi pendekatan utilitarianisme. Teoti Rawls dapat diterapkan dalam akuntansi karena teori ini mengusulkan adanya ketergantungan pada tabir kebodohan pada setiap situasi, yang menuntut aanya pilihan dalam akuntansi yang akhirnya menghasilkan solusi yang netral, jujur, dan adil secara sosial.
b.  Kontribusi Nozick
Sementara Rawls tertarik dengan keadilan pada pola distribusi, Nozick tertarik dengan proses terjadinya distribusi. Nozick berependapat bahwa teori keadilan Rawls mengabaikan hak manusia, sehingga tidak dapat dibenarkan secara moral. Nozick memposisikan teorinya didasarkan pada prinsip keadilan dalam pemerolehan dan dalam transfer dan juga tergantung pada mekanisme pasar bebas.
c. Kontribusi Gerwith
Tujuan teori keadilan Gerwith adalah untuj memberikan pembenaran rasional bagi prinsip – prinsip moral agar dapat membedakan secara objektif antara tindakan dan kebiasaan yang benar secara moral dengan tindakan dan kebiasaan yang salah secara moral. Tindakan yang dimaksud dibedakan menjadi dua yaitu kesukarelaan dan kemanfaatan. Teori keadilan Gerwith ditawarkan sebagai sebuah konsep kejujuran dalam akuntansi. Teori ini dapat di terapkan dalam akuntansi karena teori ini menekankan pada hak kebebasan dan kesejahteraan bagi semua orang yang dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan dan untuk pembentukan aturan – aturan institusional dan akuntansi untuk menjamin pelaksanaan hak – hak tersebut.

C.  Kewajaran dalam Pengungkapan
      1. Tuntunan untuk Memperluas Peungkapan
Terdapat beberapa usulan untuk mengurangi atau untuk menghapus ketidakadilan dalam pelaporan dan pengungkapan diantaranya :
a.       Usulan Pengungkapan Bedford
Bedford mengusulkan perluasan pengungkapan akuntansi untuk meringankan masalah yang ditimbulkan oleh doktrin kejujuran dalam akuntansi. Selain hanya tergantung pada prinsip akuntansi berterima umum sebagai satu – satunya metode pengukuran, bedford mengusulkan untuk mengembangkan alat baru yang dapat digunakan untuk membuat infomasi yang bermanfaat bagi manajemen dan pembuat keputusan.

b.      Teori Lev mengenai Kebijakan Akuntansi yang Wajar dan Efisien
Lev mengusulkan teori mengenai kebijakan akuntansi yang wajara dan efisiens. Lev berpendapat bahwa kemajuan dalam mengungkapkan masalah kebijakan akuntansi yang asasi dapat dicapai dengan melihat perhatian pembuat kebijakan secara eksplisit, yaitu keadilan pasar modal. Keadilan ini didefinisikan sebagai kesempatan yang sama atau terjadi informasi yang simetris bagi semua investor ketika informasi tersebut dikeluarkan dan semua investor identik dengan return ekspektasian yang disesuaikan dengan resiko.

c.       Keunggulan Penggunaan Gaa
Gaa menggali formulasi logis mengenai prinsip keunggulan pengguna berdasarkan pada usaha terkini pada filosofi etika, dan sosial dan politik. Bidang ini merupakan bidang yang melibatkan manusia sebagai pembuat keputusan dan bidang yang prinsipnya mengatur perilaku individu dan kelompok sebagai hasil keputusan yang rasional.

d.      Temuan – temuan Komite Jenkins
Komite Jenkins bertugas menentukan :
-  Sifat dan cakupan informasi yang seharusnya dilaporkan oleh pihak manajemen.
- Cakupan informasi yang seharusnya dilaporkan oleh auditor.
e.   Pengungkapan Akuntansi yang Diperluas
Tujuan pengungkapan adalah :
-  Untuk menjelaskan item – item yang diakui dan untuk menyediakan ukuran yang relevan bagi item – item tersebut, selain ukuran dalapm laporan keuangan.
-  Untuk menjelaskan item – item yang belum diakui untuk menyediakan ukuran yang bermanfaat bagi item – item tersebut.
-  Ăšntuk menyediakan informasi untuk membantu investor dan kreditur dalam menentukan risiko dan item – item yang potensial untuk diakui dan yang belum diakui.
-  Untuk menyediakan informasi penting yang dapat dipergunakan oleh pengguna laporan keuangan untuk membandingkan antar perusahaan dan antar tahun.
-  Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar di masa mendatang.
-  Untuk membantu investor dalam menentukan return dan investasinya.

2.      Pelaporan Nilai Tambah
Nilai tambah merupakan peningkatan kesejahteraan yang dihasilkan oleh pengguna sumber daya perusahaan yang produktif sebelum dialokasikan kepada pemegang saham, pemegang obligasi, pegawai, dan pemerintah. Nilai tambah ini mudah dihitung dengan memodifikasi laporan laba rugi.
Langkah 1 : Laporan laba rugi menghitung laba ditahan sebagai selisish antararevenue penjualan dengan kos, pajak, dan dividen:
R = S – B – DP – W – I – DD – T
Ket : R      : Laba ditahan
         S       : revenue penjualan
  B      : material dan jasa yang dibeli
DP    : depresiasi
                      W     : gaji
                      I       : bunga
                     DD    : dividen
                     T        : pajak

Langkah 2: Persamaan nilai tambah dapat diperoleh dengan mengubah persamaan profit :
S – B = R + DP + W + I + DD – T          (metode nilai tambah bruto)
Atau
S – B – DP = R + W + I + DD – T           (metode nilai tambah neto)

3.      Pelaporan Karyawan
Dengan adanya karyawan dan serikat pekerja sebagai pengguna informasi akuntansi yang potensial, dan untuk berbagai alasan yang baik, tampak bahwa laporan tahunan bagi pemegang saham bukan merupakan dokumen yang dapat mencakup kepentingan semua pihak. Solusinya yaitu terletak pada pembuatan laporan khusus bagi karyawan dan serikat pekerja.

4.      Akuntansi dan Pelaporan Sosial
Terdapat empat aktivitas yang berhubungan dengan akuntansi sosial yaitu ; akuntansi pertanggungjawaban sosial (social responsibility accounting, SRA), Akuntansi sosioekonomi (socioeconomis accounting, SEA), akuntnasi dampak total ( total impact accounting, TIA), dan akuntansi indikator sosial (social indicator accounting, SIA).
Alasan dilakukannya pengungkapan kinerja sosial diantaranya:
- Terkait dengan kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
- Membantu dalam mengaplikasikan konsep kejujuran yang akan bermanfaat bagi akuntansi sosial.
- Kebutuhan pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan alokasi dana.
- Investasi sosial.

5.      Pengungkapan Informasi Anggaran
Dalam pengungkapan informasi penganggaran perlu memperhatikan reliabilitas terkait dengan keakuratan relatif peramalan, pertanggungjawaban terkait dengan besarnya kewajiban perusahaan dalam penganggaran dan kemungkinan akuntan mengaudit anggaran tersebut, dan sikap diam terkait dengan tingkat diamnya dan ketidakbergeraknya perusahaan akibat kerugian yang mungkin timbul dari pengungkapan penganggaran.

6.      Pelaporan dan Akuntansi Aliran Kas
Akuntansi aliran kas dipandang oleh pendukungnya sebagai yang terbaik dibandingkan akuntansi akrual konvensional karena :
- Dapat menyediakan kerangka analitis untuk menghubungkan kinerja masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
- Dapat merefleksikan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya di masa mendatang dan yang direncanakan pada kebijakan keuangan.
- Rasio aliran harga yang didiskon dapat menjadi indikator investasi yang lebih dapat dipercaya dibandingkan rasio harga dengan earnings saat ini, karen dalam menghitung earnings per lembar saham menggunakan berbagai metode alokasi yang sembarang.
- Dapat digunakan untuk mengoreksi perbedaan dalam praktik yaitu antara cara melaksanakan investasi ( biasanya didasarkan pada aliran kas) dengan cara mengevaluasi hasil ( biasanya didasarkan pada earnings).


 7.  Akuntansi Sumber Daya Manusia
a.       Manfaat Sumber Daya Manusia
Belkaoui (1995) mendefinisikan akuntansi sumber daya manusia yaitu proses mengidentifikasi dan mengukur data mengenai sumber daya manusia dan mengkomunikasikan informasi ini kepada pihak – pihak yang tertarik. Tujuan utama akuntansi sumber daya manusia yaitu :
- Identifikasi “nilai sumber daya manusia”.
- Pengukuran cost dan nilai orang pada organisasi.
- Mengkaji pengaruh pemahaman informasi ini dan dampaknya pada  perilaku manusia

b.      Teori Nilai Sumber Daya Manusia
Konsep nilai manusia berasal dari teori umum mengenai nilai ekonomis. Individu dan kelompok dapat dilekati nilai, seperti aset fisik yang didasarkan pada kemampuan untuk memberikan jasa ekonomi di masa mendatang. Nilai individu atau kelompok didefinisikan sebagai manfaat jasa yang diberikan saat ini yang diberikan kepada organisasi sepanjang masa pemberian jasa individu atau kelompok yang diharapkan.

c. Pengukuran Aktiva Sumber Daya Manusia
- Metode Cost Historis
Mengkapitalisasi seluruh cost yang terkait dengan usaha untuk merekrut, memilih, mempekerjakan, melatih, menempatkan dan mengembangkan seorang karyawan (aset manusia), dan kemudian mengamortisasi cist ini sepanjang masa manfaat aset ini dan mengakui kerugian jika melikuidasinya atau meningkatkan keuntungan potensial dari aset tersebut.
-    Metode Replacement Cost
Membuat estimasi cost untuk mengganti sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan. Keuntungan metode ini adalah metode ini merupakan pengganti pengukuran yang baik bagi nilai ekonomis aset dengan batasan bahwa pertimbangan pasar penting untuk membentuk tafsiran akhir.
-     Metode Opportunity Cost
Nilai sumber daya ditentukan melalui proses penawaran kompetitif pada perusahaan, didasarkan pada konsep opportunity cost.
-       Metode Kompensasi
Nilai modal manusia yang dikandung oleh seorang manusia pada umur tahun adalah nilai sekarang dari earnings yang akan diperolehnya dari pekerjaanya. Kelemahan metode ini adalah subjetivitas yang terkait dengan penentuan tingkat gaji mendatang, lama karyawan bekerja dalam organisasi, dan tingkat diskon.
-       Metode Adjusted Discounted Future Wages
Metode ini mengusulkan bahwa gaji mendatang yang didiskon disesuaikan dengan menggunakan faktor efisiensi, yang digunakan untuk mengukur efektivitas relatif modal manusia pada perusahaan tertentu.
-       Ukuran Non Moneter
Ukuran non moneter ini digunakan untuk mengukur aset manusia yang telah digunakan seperti metode sederhana yaitu dilakukan pembuatan peringkat atau ranking mengenai kinerja individual dan pengukuran sikap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar