KEWAJARAN, PEUNGKAPAN, DAN TREN MASA DEPAN
DALAM AKUNTANSI
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas
matakuliah Teori Akuntansi
Yang dibina oleh Dr. H. Eka
Ananta Sidharta, S.E., M.M., Ak, CA
Oleh
Dyah Ayu Khumairo’ 120422403191
Syukriyah 120422425873
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI
November
2014
KEWAJARAN, PEUNGKAPAN, DAN TREN MASA DEPAN
DALAM AKUNTANSI
A.
Kewajaran sebagai Netralitas dalam
Penyajian
Kewajaran paling tepat dijabarkan dalam literatur dan persyaratan-persyaratan akuntansi profesional sebagai pernyataan netralitas dari akuntan dalam pembuatan laporan keuangan. Scott pada tahun 1941, menyatakan: “Aturan, prosedur, dan teknik akuntansi hendaknya wajar, tidak bias dan tidak memihak. Jadi salah satu dalil akuntansi dasar yang mendasari prinsip-prinsip akuntansi dapat dinyatakan sebagai kewajaran-kewajaran bagi seluruh segmen dari masyarakat bisnis (manajemen, tenaga kerja, pemegang saham, kreditor, konsumen, dan publik), ditentukan dan kebiasaan dari semua segmen tersebut sampai pada akhirnya semua prinsip-prinsip akuntansi yang didasarkan atas dalil di atas akan menghsilkan akuntansi keuangan bagi hak-hak dan kepentingan-kepentingan ekonomi yang telah diterbitkan secara resmi menjadi wajar untuk semua segmen.
Kewajaran paling tepat dijabarkan dalam literatur dan persyaratan-persyaratan akuntansi profesional sebagai pernyataan netralitas dari akuntan dalam pembuatan laporan keuangan. Scott pada tahun 1941, menyatakan: “Aturan, prosedur, dan teknik akuntansi hendaknya wajar, tidak bias dan tidak memihak. Jadi salah satu dalil akuntansi dasar yang mendasari prinsip-prinsip akuntansi dapat dinyatakan sebagai kewajaran-kewajaran bagi seluruh segmen dari masyarakat bisnis (manajemen, tenaga kerja, pemegang saham, kreditor, konsumen, dan publik), ditentukan dan kebiasaan dari semua segmen tersebut sampai pada akhirnya semua prinsip-prinsip akuntansi yang didasarkan atas dalil di atas akan menghsilkan akuntansi keuangan bagi hak-hak dan kepentingan-kepentingan ekonomi yang telah diterbitkan secara resmi menjadi wajar untuk semua segmen.
Menurut
sejarahnya, kewajaran atau doktrin kewajaran mengalami evolusi dari penerapan
kosep konservatisme. Konsep tersebut berangkat dari perhatian yang berhubungan
dengan masalah likuiditas dan pemberian kredit, yang umumnya dikaitkan dengan
konservatisme, menuju kearah pemikiran bahwa penyajian laporan keuangan seharusnya
wajar bagi semua pengguna. Kewajaran umumnya dihubungkan dengan pengukuran dan
pelaporan informasi melalui cara yang objektif dan netral. Informasi adalah
wajar jika informasi tersebut objektif dan netral. Kewajaran akan lebih dapat
tercapai dalam akuntansi manajerial atau akuntansi biaya dimana adanya
tanda-tanda keberpihakan atau bias dapat mendistorsikan proses pengambilan
keputusan yang sangat bergantung pada data akuntansi manajerial. kewajaran
menjadi kriteria informasi yang dibutuhkan dalam akuntansi manajerial untuk
memastikan integrasi dan akurasi dari pengambilan keputusan.
B.
Doktrin “Benar dan Wajar”
Menurut
pemahaman umum, pandangan ini berati penyajian akun-akun, yang berdasarkan
prinsi-prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan menggunakan angka-angka yang
akurat. Benar memiliki artian bahwa informasi akuntasi yang dimuat dalam
laporan keuangan telah dikuantifisir dan dikomunikasikan sedemikian rupa
sehingga sesuai dengan peristiwa, aktivitas dan transaksi ekonomi yang
dimaksudkan untuk disajikan olehnya. Wajar berarti bahwa informasi akuntansi
tersebut telah di ukur dan diungkapkan dengan cara yang objektif dan tanpa
prasangka apa pun terhadap kepentingan dari berbagai bagian dalam perusahaan.
Kedua difinisi
diatas pada dasarnya menghubungkan ”benar dan wajar” dengan akurat dan bebas
dari bias. Akan tetapi usaha yang patut dihargai ini mengurangi artian dari
definisi profrsional dan legal mengenai “benar dan wajar” sebagai salah satu
istilah teknis yang memiliki arti kepatuhan terhadap prinsip-prinsip akuntansi
yang benar. Tidak terdapat definisi yang jelas mengenai doktrin “benar dan
wajar” ini, yang selanjutnya mengarah kepada munculnya interprestasi yang
berbeda di antara para anggota.
C.
Kewajaran dalam Distribusi
Pada dasarnya, kewajaran
dapat dipandang sebagai konsep moral dari keadilan yang menjadi subjek dari
tiga interpretasi yang berada mengenai pemikiran keadilan distributif. Oleh
sebab itu, hasil akhirnya adalah adanya kemungkinan untuk melihat dan
membandingkan konsep kewajaran melalui kerangka keadilan disributif.
1. Perhatian atas Pertanyaan-pertanyaan
Mengenai Distribusi
Masalah
pendistribusian hampir selalu diabaikan dalam pandangan konvensional atas
kewajaran sebagai netralitas, dalam penyajian. Jika pertimbangan mengenai
kewajaran diperkenankan untuk menjadi lebih eksplisit, bebrapa implikasi
tertentu akan muncul pada studi dan praktk akuntansi. Salah satu yang paling
nyata adalah akuntansi memiliki demensi moral. Konsekuensi dari aktivitas
akuntansi memiliki implikasi moral sekaligus implikasi “efesiensi”. Bagi suatu
profesi, menjadi lebih ilmiah bukan berarti harus meninggalkan pengambialan
keputusan moral dan mengembangkan cara-cara untuk melakukannya. Kewajaran dalam
akuntansi dan kewajaran dalam distribusi tumbuh dari kerangka etika yang
berbeda, meskipun bersifat komplementer, asumsi-asumsi mengenai masyarakat.
Kewajaran dalam
literatur akuntansi sosial menjadi masalah pendistribusian tanggung jawab
sosial secara umum, dan ketanggapan sosial sebagai kemampuan dari perusahaan
untuk memberikan respons atas tekanan-tekanan sosial. Jadi responsif sosial
perusahaan, menjadi salah satu tanda kewajaran, berada di luar konotasi moral
dan etika dari tanggung jawab sosial serta proses material. Respon untuk
kewajaran meliputi identifikasi, pengukuran dan pengungkapan, apabila
memungkinkan, dari biaya sosial yang diciptakan oleh aktivitas-aktivitas eknomi
perusahaan, sekaligus pula respon yang memadai untuk masalah-masalah ini.
2. Kewajaran
sebagai Konsep Moral dari Keadilan
Agar kejujuran dianggap sebagai
konsep keadilan moral, harus dibuat kesesuaian antara teori utama yang membahas
mengenai keadilan distributif.
a.. Kontribusi Rawls
Teori keadilan Rawls bertujuan
untuk mengembangkan sebuah teori mengenai keadilan dalam bentuk prinsip –
prinsip yang dapat diterapkan untuk mengmbangkan struktur dasar masyarakat dan
memberikan tantangan langsung bagi pendekatan utilitarianisme. Teoti Rawls
dapat diterapkan dalam akuntansi karena teori ini mengusulkan adanya
ketergantungan pada tabir kebodohan pada setiap situasi, yang menuntut aanya
pilihan dalam akuntansi yang akhirnya menghasilkan solusi yang netral, jujur,
dan adil secara sosial.
b. Kontribusi Nozick
Sementara Rawls tertarik dengan
keadilan pada pola distribusi, Nozick tertarik dengan proses terjadinya
distribusi. Nozick berependapat bahwa teori keadilan Rawls mengabaikan hak
manusia, sehingga tidak dapat dibenarkan secara moral. Nozick memposisikan teorinya
didasarkan pada prinsip keadilan dalam pemerolehan dan dalam transfer dan juga
tergantung pada mekanisme pasar bebas.
c. Kontribusi Gerwith
Tujuan
teori keadilan Gerwith adalah untuj memberikan pembenaran rasional bagi prinsip
– prinsip moral agar dapat membedakan secara objektif antara tindakan dan
kebiasaan yang benar secara moral dengan tindakan dan kebiasaan yang salah
secara moral. Tindakan yang dimaksud dibedakan menjadi dua yaitu kesukarelaan
dan kemanfaatan. Teori keadilan Gerwith ditawarkan sebagai sebuah
konsep kejujuran dalam akuntansi. Teori ini dapat di terapkan dalam akuntansi
karena teori ini menekankan pada hak kebebasan dan kesejahteraan bagi semua
orang yang dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan dan untuk pembentukan aturan –
aturan institusional dan akuntansi untuk menjamin pelaksanaan hak – hak tersebut.
C. Kewajaran dalam Pengungkapan
1. Tuntunan untuk Memperluas Peungkapan
Terdapat beberapa usulan untuk mengurangi atau untuk menghapus
ketidakadilan dalam pelaporan dan pengungkapan diantaranya :
a.
Usulan Pengungkapan Bedford
Bedford mengusulkan perluasan pengungkapan akuntansi untuk meringankan
masalah yang ditimbulkan oleh doktrin kejujuran dalam akuntansi. Selain hanya
tergantung pada prinsip akuntansi berterima umum sebagai satu – satunya metode
pengukuran, bedford mengusulkan untuk mengembangkan alat baru yang dapat
digunakan untuk membuat infomasi yang bermanfaat bagi manajemen dan pembuat
keputusan.
b.
Teori Lev mengenai Kebijakan Akuntansi
yang Wajar dan Efisien
Lev mengusulkan teori mengenai kebijakan akuntansi yang wajara dan
efisiens. Lev berpendapat bahwa kemajuan dalam mengungkapkan masalah kebijakan
akuntansi yang asasi dapat dicapai dengan melihat perhatian pembuat kebijakan
secara eksplisit, yaitu keadilan pasar modal. Keadilan ini didefinisikan
sebagai kesempatan yang sama atau terjadi informasi yang simetris bagi semua
investor ketika informasi tersebut dikeluarkan dan semua investor identik
dengan return ekspektasian yang disesuaikan dengan resiko.
c.
Keunggulan Penggunaan Gaa
Gaa menggali formulasi logis mengenai prinsip keunggulan pengguna
berdasarkan pada usaha terkini pada filosofi etika, dan sosial dan politik.
Bidang ini merupakan bidang yang melibatkan manusia sebagai pembuat keputusan
dan bidang yang prinsipnya mengatur perilaku individu dan kelompok sebagai
hasil keputusan yang rasional.
d.
Temuan – temuan Komite Jenkins
Komite Jenkins bertugas menentukan :
- Sifat dan cakupan informasi yang seharusnya dilaporkan oleh pihak
manajemen.
- Cakupan informasi yang
seharusnya dilaporkan oleh auditor.
e.
Pengungkapan Akuntansi yang Diperluas
Tujuan pengungkapan adalah :
- Untuk menjelaskan item – item yang
diakui dan untuk menyediakan ukuran yang relevan bagi item – item tersebut,
selain ukuran dalapm laporan keuangan.
- Untuk menjelaskan item – item yang belum
diakui untuk menyediakan ukuran yang bermanfaat bagi item – item tersebut.
- Ăšntuk menyediakan informasi untuk membantu investor dan
kreditur dalam menentukan risiko dan item – item yang potensial untuk diakui
dan yang belum diakui.
- Untuk menyediakan informasi penting yang dapat dipergunakan
oleh pengguna laporan keuangan untuk membandingkan antar perusahaan dan antar
tahun.
- Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan
keluar di masa mendatang.
- Untuk membantu investor
dalam menentukan return dan investasinya.
2.
Pelaporan Nilai Tambah
Nilai tambah merupakan peningkatan kesejahteraan yang dihasilkan oleh
pengguna sumber daya perusahaan yang produktif sebelum dialokasikan kepada
pemegang saham, pemegang obligasi, pegawai, dan pemerintah. Nilai tambah ini
mudah dihitung dengan memodifikasi laporan laba rugi.
Langkah 1 : Laporan laba rugi menghitung
laba ditahan sebagai selisish antararevenue penjualan dengan kos,
pajak, dan dividen:
R = S – B – DP – W – I – DD – T
Ket : R : Laba ditahan
S :
revenue penjualan
B : material dan jasa yang
dibeli
DP : depresiasi
W :
gaji
I : bunga
DD :
dividen
T :
pajak
Langkah 2: Persamaan nilai tambah dapat diperoleh dengan mengubah persamaan
profit :
S – B = R + DP + W + I + DD –
T (metode nilai
tambah bruto)
Atau
S – B – DP = R + W + I + DD –
T (metode
nilai tambah neto)
3.
Pelaporan Karyawan
Dengan adanya karyawan dan serikat pekerja sebagai pengguna informasi
akuntansi yang potensial, dan untuk berbagai alasan yang baik, tampak bahwa
laporan tahunan bagi pemegang saham bukan merupakan dokumen yang dapat mencakup
kepentingan semua pihak. Solusinya yaitu terletak pada pembuatan laporan khusus
bagi karyawan dan serikat pekerja.
4.
Akuntansi dan Pelaporan Sosial
Terdapat empat aktivitas yang berhubungan dengan akuntansi sosial yaitu ;
akuntansi pertanggungjawaban sosial (social responsibility accounting, SRA),
Akuntansi sosioekonomi (socioeconomis accounting, SEA), akuntnasi dampak total
( total impact accounting, TIA), dan akuntansi indikator sosial (social
indicator accounting, SIA).
Alasan dilakukannya pengungkapan kinerja
sosial diantaranya:
- Terkait dengan kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
- Membantu dalam mengaplikasikan konsep kejujuran yang akan bermanfaat bagi
akuntansi sosial.
- Kebutuhan pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan alokasi dana.
- Investasi sosial.
5.
Pengungkapan Informasi Anggaran
Dalam pengungkapan informasi penganggaran perlu memperhatikan reliabilitas
terkait dengan keakuratan relatif peramalan, pertanggungjawaban terkait dengan
besarnya kewajiban perusahaan dalam penganggaran dan kemungkinan akuntan
mengaudit anggaran tersebut, dan sikap diam terkait dengan tingkat diamnya dan
ketidakbergeraknya perusahaan akibat kerugian yang mungkin timbul dari
pengungkapan penganggaran.
6.
Pelaporan dan Akuntansi Aliran Kas
Akuntansi aliran kas dipandang oleh pendukungnya sebagai yang terbaik
dibandingkan akuntansi akrual konvensional karena :
- Dapat menyediakan kerangka analitis untuk menghubungkan kinerja masa
lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
- Dapat merefleksikan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya
di masa mendatang dan yang direncanakan pada kebijakan keuangan.
- Rasio aliran harga yang didiskon dapat menjadi indikator investasi
yang lebih dapat dipercaya dibandingkan rasio harga dengan earnings saat ini,
karen dalam menghitung earnings per lembar saham menggunakan berbagai metode
alokasi yang sembarang.
- Dapat digunakan untuk mengoreksi perbedaan dalam praktik yaitu antara
cara melaksanakan investasi ( biasanya didasarkan pada aliran kas) dengan cara
mengevaluasi hasil ( biasanya didasarkan pada earnings).
7.
Akuntansi Sumber Daya Manusia
a. Manfaat Sumber Daya Manusia
Belkaoui (1995) mendefinisikan akuntansi sumber daya manusia yaitu proses
mengidentifikasi dan mengukur data mengenai sumber daya manusia dan
mengkomunikasikan informasi ini kepada pihak – pihak yang tertarik. Tujuan
utama akuntansi sumber daya manusia yaitu :
- Identifikasi “nilai sumber daya
manusia”.
- Pengukuran cost dan nilai orang pada
organisasi.
- Mengkaji pengaruh pemahaman informasi ini dan
dampaknya pada perilaku manusia
b. Teori Nilai Sumber Daya Manusia
Konsep nilai manusia berasal dari teori umum mengenai nilai ekonomis.
Individu dan kelompok dapat dilekati nilai, seperti aset fisik yang didasarkan
pada kemampuan untuk memberikan jasa ekonomi di masa mendatang. Nilai individu
atau kelompok didefinisikan sebagai manfaat jasa yang diberikan saat ini yang
diberikan kepada organisasi sepanjang masa pemberian jasa individu atau
kelompok yang diharapkan.
c. Pengukuran Aktiva Sumber Daya Manusia
- Metode Cost Historis
Mengkapitalisasi seluruh cost yang terkait dengan usaha untuk merekrut,
memilih, mempekerjakan, melatih, menempatkan dan mengembangkan seorang karyawan
(aset manusia), dan kemudian mengamortisasi cist ini sepanjang masa manfaat
aset ini dan mengakui kerugian jika melikuidasinya atau meningkatkan keuntungan
potensial dari aset tersebut.
- Metode Replacement Cost
Membuat estimasi cost untuk mengganti sumber daya manusia yang ada dalam
perusahaan. Keuntungan metode ini adalah metode ini merupakan pengganti
pengukuran yang baik bagi nilai ekonomis aset dengan batasan bahwa pertimbangan
pasar penting untuk membentuk tafsiran akhir.
- Metode Opportunity Cost
Nilai sumber daya ditentukan melalui proses penawaran kompetitif pada
perusahaan, didasarkan pada konsep opportunity cost.
- Metode Kompensasi
Nilai modal manusia yang dikandung oleh seorang manusia pada umur tahun
adalah nilai sekarang dari earnings yang akan diperolehnya dari pekerjaanya.
Kelemahan metode ini adalah subjetivitas yang terkait dengan penentuan tingkat
gaji mendatang, lama karyawan bekerja dalam organisasi, dan tingkat diskon.
- Metode Adjusted Discounted Future Wages
Metode ini mengusulkan bahwa gaji mendatang yang didiskon disesuaikan
dengan menggunakan faktor efisiensi, yang digunakan untuk mengukur efektivitas relatif
modal manusia pada perusahaan tertentu.
- Ukuran Non Moneter
Ukuran non moneter ini digunakan untuk mengukur aset manusia yang telah
digunakan seperti metode sederhana yaitu dilakukan pembuatan peringkat atau
ranking mengenai kinerja individual dan pengukuran sikap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar